Berita Online Moto GP

Marquez Dianggap Calon Pembalap Terkuat di MotoGP 2018

Marquez Dianggap Calon Pembalap Terkuat di MotoGP 2018

Genericviagracheapest.net, Jakarta – Marc Marquez yaitu fenomena langka di MotoGP. Tidak sering ada pembalap muda yang menguasai tiap-tiap musim di kelas pertama. Marquez lakukan itu mulai sejak memerankan kiprahnya pada musim 2013.

Bila dihitung dari tahun kiprahnya, pembalap Repsol Honda cuma sempat tidak berhasil jadi juara dunia MotoGP. Waktu tersebut ia cuma dapat finish di tempat ketiga klassemen MotoGP 2015, musim dimana Jorge Lorenzo keluar jadi juara dunia sesudah memenangi duel kontra Valentino Rossi.

Keseluruhan ada empat juara dunia MotoGP yang dimenangkan oleh The Baby Alien. Koleksinya relatif bertambah. Pembalap Spanyol sudah tunjukkan awal yang baik dalam lomba MotoGP Qatar 2018 di Losail Sirkuit, 18 Maret.

Memanglah, Losail bukanlah circuit ramah dengan Honda, terlebih Marquez. Tetapi, pembalap berumur 25 tahun itu tunjukkan penambahan yang cepat. Dia dapat menghimpit Andrea Dovizioso ke tikungan paling akhir.

” Saya tidak paham (saat di tanya apakah Marquez dapat juga hebat bila mengendarai motor Ducati.) Sudah pasti Marc yaitu pembalap yang mengagumkan saya fikir itu dapat amat cepat dengan motor ini Tidak bisa disangka Tapi Marc yaitu pembalap terkuat di MotoGP Jadi kenapa tidak ” Kata Christian Gabarrini, Chief Mechanical Lorenzo, mengutip Tuttomotoriweb.

Fokos Kepada Lorenzo

Selanjutnya, Gabbarini menyoroti performa Lorenzo yang tak kunjung membaik bersama Ducati. Padahal, seharusnya MotoGP 2018 bisa jadi musim penebusan bagi X-Fuera setelah meraih hasil buruk sepanjang musim 2017.

Bagi pembalap dengan koleksi tiga gelar juara dunia MotoGP, melewati semusim penuh tanpa satupun kemenangan jelas sebuah petaka besar. Dan pada balapan di Qatar, pembalap asal Spanyol itu juga tak mampu menyentuh garis finis akibat terjadi di lap ke-12.

“Pada 2017, kami fokus untuk mempertahankan kecepatan tinggi di sepanjang balapan. Ini yang paling penting. Dalam kualifikasi, mencetak lap tercepat biasanya mudah baginya. Tapi, khususnya di paruh pertama musim lalu, jelas tak ada konsistensi dalam balapan,” tegas Gabbarini.