Berita Bola Berita Online

Allegri Pergi, tapi Tradisi Scudetto Tak Akan Menjauh dari Juventus

Allegri Pergi, tapi Tradisi Scudetto Tak Akan Menjauh dari Juventus

Genericviagracheapest.net – Selesai sudah perjalanan Massimiliano Allegri bersama Juventus. Sebelas gelar juara dalam lima musim menjadi penanda yang tinggal tetap dalam seluruh kisah ‘Si Nyonya Tua’.

Laga terakhir berakhir dengan kekalahan 0-2 dari Sampdoria. Tapi, masa depan Juventus tidak ditentukan oleh satu atau dua kekalahan semata.

“Saya meninggalkan tim juara yang sudah memegang 80% kemungkinan scudetto dan akan bertarung dengan tangguh di Liga Champions musim depan,” ucap Allegri dalam konferensi pers usai laga, dilansir Football Italia.

Scudetto yang menjadi tolok ukur kekuatan tim Italia memang berpihak pada Juventus. Pada masa kepelatihan Allegri, Juventus mengecap lima gelar juara liga dalam lima musim beruntun.

Pencapaian itu melahirkan rekor karena menggenapi delapan scudetto Juventus dalam delapan musim berturut-turut. Tak sekadar digdaya di Italia, Juventus pun ternama di Eropa.

Rangkaian delapan scudetto tadi memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Olympique Lyonnais yang berhasil merengkuh gelar juara liga Prancis dalam tujuh musim beruntun pada 2001/02 hingga 2007/08. Itu belum ditambah dengan empat trofi juara Coppa Italia yang berhasil diangkat tinggi-tinggi oleh Juventus.

Tapi, gelar juara domestik tak akan pernah cukup bagi tim seperti Juventus. Mata mereka memicing tajam mengincar trofi ‘Si Kuping Besar’. Harapan tinggi untuk menjadi raja Eropa ditancapkan dalam-dalam.

Baca Juga :  MU Siap Bajak Transfer Griezmann

Bukan ambisi berlebihan karena terakhir kali takhta juara itu berhasil diduduki pada 1995/96. Itu berarti sudah 23 tahun yang lalu.

“Saya meninggalkan tim juara yang lebih kuat dari tim mana pun. Tim ini akan kembali mengalahkan setiap lawan mereka. Mungkin dengan sedikit keberuntungan mereka dapat menjuarai Liga Champions,” ujar Allegri.

Menutup perjalanan tanpa menggenapi ambisi memang perkara menyebalkan. Segala keberhasilan rasanya menjadi tak lengkap. Omongan miring sebagai jago kandang melulu datang dari musim ke musim.

“Dalam hidup, segalanya sesuatunya sudah digariskan. Saya memang tidak akan melatih lagi di sini. Tapi, saya diingatkan tentang scudetto pertama (dengan Allegri sebagai pelatihnya –red) yang kami rayakan bersama-sama di sini. Sekarang, saya mengucapkan selamat tinggal di stadion yang sama setelah gelar juara lima kami secara beruntun,” jelas Allegri.

Tapi, ada atau tidak adanya trofi Liga Champions dalam lima musim terakhir, Juventus tetap menjadi tim yang ditakuti lawan. Lebih dari itu, mereka ditahbiskan sebagai standar kesuksesan tim Italia.

Pemain senior seperti Giorgio Chiellini yang tetap turun arena menjadi simbol loyalitas. Megabintang seperti Cristiano Ronaldo datang. Darah muda macam Moise Kean adalah penanda bahwa Juventus tak gamang berhadapan dengan zaman yang baru. Tangan Allegri menyambungkan titik demi titik tadi dengan benang merah agar semuanya tak terputus.

Siapa yang akan menjadi suksesor Allegri memang masih menjadi spekulasi. Nama sebesar Pep Guardiola saja sampai disangkutpautkan dengan kursi kepelatihan ‘Si Nyonya Tua’.

Tapi, siapa pun nanti yang menjadi penerus, bukannya tak mungkin eksistensi Allegri di Turin bakal menjadi fragmen tak terlupakan. Bukan karena tak ada yang bisa melampaui pencapaiannya, tapi barangkali karena manusia memang tak dianugerahi bakat untuk melupakan yang sudah lewat.